Selamat Datang

Life After Campus, Bekerja Sesuai Passion Mungkinkah?

Halo Sobat Blogger, dan spesial saya sebutkan untuk teman-teman Komuni Asik...
Sebelumnya, terima kasih kepada tim Komuni Asik atas kesempatannya yang diberikan kepada saya untuk bisa berbagi pengalaman perihal kehidupan setelah kuliah. Terima kasih saya berikan juga kepada teman-teman yang sudah bersedia mendaftar dan mau meluangkan waktunya mengikuti sharing “Seminar Nasional Online” yang menurut pribadi penulis terasa begitu wah dengan 3 kata tersebut.


bekerja sesuai passion
Foto saat mengikuti workshop di Akademi Instagram regional Jakarta
Oh ya, sebelumnya saya juga mau meminta maaf untuk materi yang dibuat ini sudah dalam bentuk tulisan bercerita khas keseharian saya ngeblog. Yah, bagi saya pribadi ini akan lebih terasa santai, menyeluruh untuk disampaikan dan pastinya jadi gaya nyamannya saya sebagai blogger saat ini. Jadi, mohon maaf bila ada yang kurang berkenan terhadap materi yang saya berikan.

Pemberitahuan diawal. Pada tulisan ini akan saya bagi ke dalam 4 Pembahasan, dengan jumlah kata di lebih dari 1500 kata sekitar 5 halaman lebih kertas A4. Semoga teman-teman semua bisa membaca semua ulasan ini dengan perlahan dan santai.  Yuk, langsung aja masuk ke pembahasan utamanya.

Setelah Lulus Kuliah; Mengejar Keinginan Bekerja Sesuai Passion

Saya pribadi merupakan mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jurusan Komunikasi yang lulus pada tahun 2017. Di masa semester 7 atau 8, masa-masa masuk membuat skripsi. Saya selalu dihantui oleh bayang-bayang setelah lulus mau ngapain lagi? Kalau mau kerja, bekerja sebagai apa nanti? Bisa tidak bekerja kantoran? Betah tidak? Bekal pengalaman apa yang bisa saya bawa dan masukan ke dalam CV? dan lain sebagainya.


bekerja sesuai passion


Tentu saja, di masa-masa itu saya mulai mengejar –menurut pribadi- ketertinggalan saya yang dahulu semasa kuliah tidak begitu aktif mengikuti banyak kegiatan tambahan selain belajar di kelas. Akhirnya, saya mengikuti kegiatan program relawan 2 bulan di Surabaya dan Bali. Serta memutuskan untuk mundur memulai skripsi di smester 8. Beruntung, dari sini dapet bahan buat skripsi sampai akhirnya lulus dengan bahan ini.

Terhitung, selain kegiatan belajar di dalam kelas sebagai mahasiswa, saya mengikuti 2 kegiatan di luar kampus. Pertama, saya pernah mencoba ikut kursus Kaligrafi di Lemka Ciputat untuk kembali mengasah hobi kaligrafi saya semasa MTS di Pondok Pesantren. Kedua, saya mulai aktif dan menekuni proses belajar menulis di komunitas FLP Ciputat.

Kembali lagi, pada masa semester akhir yang ada dipikiran saya setelah lulus kuliah adalah bekerja. Namun, masih gak tahu mau kerja apa? Di perusahaan mana? Tapi, yang ada di pikiran saya adalah bekerja sesuai dengan apa yang saya sukai dan saya bisa kerjakan. Modal saya waktu itu saya suka dan bisa menulis serta main social media. Kekeh dalam pikiran saya adalah bagaimana pun caranya, modal ini yang harus membawa saya sampai pada tahap pekerjaan.


bekerja sesuai passion
Foto di Kalimantan, saat masih bekerja sebagai Social Media Digital 
Sampai saya lulus kuliah, beberapa bulan setelahnya. Saya mendapatkan rekomendasi pekerjaan. Dan alhamdulillah, saya bisa bekerja dengan modal saya menulis dan bermain social media. Ya, pada saat itu menjadi status pekerjaan tetap saya sebagai karyawan dengan posisi sebagai Social Media Digital di perusahaan agensi periklanan di Jakarta.

Dan setelah saya resign, saya pun mengambil keputusan besar untuk menekuni pekerjaan sebagai freelancer, Blogger. Biasa disebut oleh teman-teman fulltime blogger karena  mengandalkan penghasilan dari bekerja sepenuhnya sebagai blogger.

2 tahun lebih bekerja sebagai fulltime blogger. Menjadi kebanggan saya pribadi, bisa bekerja tanpa terikat oleh suatu instansi, waktu bekerja yang fleksibel serta bisa bekerja di mana saja. Jelas, saya sangat bahagia menjalani ini semua. Selain mendapatkan profit penghasilan, saya pun mendapatkan banyak pengalaman juga tentunya.

Baca juga: Cerita Kuliah Sambil Kerja

Bekerja Sesuai Passion: Apa itu Passion?

Passion adalah tentang apa yang kita sukai dan bisa dilakukan. Hampir sama dengan hobi, tapi ada pembeda di antara keduanya. Hobi biasanya dilakukan untuk bersantai, meluangkan waktu, sebagai cara menciptakan kesenangan diri. Sedangkan passion menjadi kegiatan yang disukai, ditekuni dan dikembangkan dengan serius. Mungkin bisa saya katakan menjadi kompetensi diri.


bekerja sesuai passion


Sedikit gambaran, sejak SMA saya sudah suka dengan yang namanya bersocial media. Sekitar tahun 2012 saya mulai membuat blog. Dan akhirnya saya seriusi sampai ikut pelatihan Social Media 6 bulan di tahun 2016 dan menjadikan setiap ilmu yang saya dapat ini modal skill untuk bekerja di ranah profesional sebagai karyawan social media digital maupun sekarang sebagai seorang fulltime blogger.


bekerja sesuai passion
Saat mengikuti pelatihan Social Media 6 Bulan bersama Repzone yang diselenggarakan oleh Republika
Seandainya saya tidak mengembangkan kegemeran saya berselancar di social media ini. Tentu saja, hanya akan menjadi sebuah hobi bersantai dan menghabiskan waktu.

Di dalam buku Millennial Power yang ditulis oleh Deddy Corbuzier dan erik Ten Have disebutkan bahwa passion yang tidak menghasilkan uang disebut dengan hobi. Hal yang sama juga disampaikan oleh seorang entrepreneur Denny Santoso yang menyebutkan idealnya bekerja sesuai passion dan ada duitnya.


bekerja sesuai passion


Apakah passion selalu didapati dari hobi? Tidak. Teman saya, dengan latar belakang kuliah di jurusan Kimia akhirnya harus bekerja di bidang Social Media digital juga. Apakah awalnya itu hobinya? Tidak. Saya tahu, teman saya ini pintar, gemar belajar dan berbagi. Bahkan, ia sempat diterima 2 beasiswa luar negeri S2. Dosen adalah pilihan yang tepat untuknya dengan modal pengalaman bekerja sebagai guru privat, guru home schooling, sampai lulusan Indonesia Mengajar.

Tapi, akhirnya dia mulai belajar semua hal tentang social media dan itu membuatnya jatuh cinta. Akhirnya, dia bisa bekerja di salah satu perusahaan sebagai tenaga ahli social media. Bila tidak salah, bahkan dia sudah mendapati posisinya sebagai Supervisor dengan penghasilan dua digit. Bahkan, dia sudah memiliki website resmi sendiri yang dia kembangkan bersama temannya dan sudah bisa menciptakan lowongan pekerjaan untuk orang lain.

Bekerja Sesuai Passion; Bagaimana Menemukan Passion Diri?

Jawabannya adalah dicari, dicoba, tekuni, dalami dan kembangkan. Seperti yang saya katakan sebelumnya, passion bisa didapat dari hobi atau pun sesuatu yang baru dicoba.

Raditya Dika Penulis, Stand up Comedy, Sutradara dan banyak gelar pekerjaan lainnya yang dia lakoni. Mengawali perjalanan kisah sukses sebagai seorang Blogger. Di mana ia menulis tentang kehidupan sehari-hari yang pada akhirnya membawanya sukses menjalani profesi yang dia sukai dan bisa ia nikmati setiap hasil dari karyanya.


bekerja sesuai passion


Saya sendiri mulai memikirkan dari apa yang saya suka dan bisa dikembangkan. Contoh lain selain bersocial media. Saya sudah gemar sekali membaca buku sejak di bangku MTS, sewaktu di Pondok Pesantren. Hingga akhirnya di semester satu kuliah saya berpikir ingin sekali menjadi seorang penulis profesional. Tujuan saya ingin membagikan setiap ilmu yang sudah saya dapat/baca bisa dibagikan lagi ke banyak orang. Maka, caranya adalah dengan belajar bagaimana menjadi seorang penulis dan menulis dengan profesional.

Di semester 3, saya memutuskan untuk masuk komunitas menulis FLP Ciputat dan mengembangkan kemampuan menulis di sana. Perjalanan panjang untuk saya bisa di titik ini sebagai seorang fulltime blogger profesional.

Masa awal belajar menulis saya pernah menulis buku yang ternyata isinya salah besar atau masih acak-acakan tidak sesuai dengan kaidah kepenulisan. Tulisan kedua, dengan buku yang sudah ditulis dengan lebih rapih dan koreksian sana sini dan berbagai masukan dari senior saya di komunitas FLP Ciputat. Tulisan saya ditolak penerbit.

Saya sempat memutuskan untuk mencari passion lain dari menulis. Bila sebelumnya, saya menulis non fiksi, saya mulai belajar hal baru lagi di FLP dengan ambil kelas Sastra. Yah, perjalanannya sama tidak mudah. Coba buat karya fiksi baik cerpen maupun puisi untuk dimuat di salah satu media. Nyatanya, hanya berhasil masuk satu di koran Tangsel itu pun tidak mendapatkan fee sebagaimana media besar menawarkan imbalan uang apabila berhasil lolos.

Selebihnya, di tahun berikutnya setelah saya mempelajari bagaimana menulis non fiksi dan sastra. Saya mulai ikut lomba dan berhasil masuk menjadi salah satu pemenang kompilasi buku dua kali berturut-turut selama 2 tahun dari penerbit mayor Divapress.


bekerja sesuai passion
Setelah belajar soal menulis buku non fiksi dan sastra. Saya pun kembali belajar soal dunia jurnalistik. Ya, kira-kira semester 7 saya mendapatkan tawaran bekerja sebagai freelancer di salah satu majalah Lembaga Zakat yang besar di Malang dan Surabaya. Tiga tahun menggeluti pekerjaan sebagai freelancer jurnalis tentu membuat saya semakin banyak pengalaman dan menemukan passion diri saya. Oh ya, program relawan yang saya ikuti di atas dari kantor Majalah saya ini.


bekerja sesuai passion
Foto saat bekerja sebagai content writer di media online
Saya pun sembari menjadi seorang freelancer di salah satu majalah juga mencoba lagi menjadi seorang penulis lepas di salah satu media online di Jakarta dengan kontrak 1 bulan kerja. Dan akhirnya, bisa sampai sekarang. Passion menulis membawa saya sebagai seorang fulltime blogger yang bisa menghasilkan profit uang bulanan hingga tahunan yang mencukupi kehidupan saya.


bekerja sesuai passion
Foto saat pertama kali mengikuti seminar soal blogging untuk pemula bersama Ani Berta Founder Komunitas Blogger ISB
Tentu, modal bekerja sesuai passion sebagai blogger pun harus belajar lagi bagaimana saya bisa menjadi seorang blogger profesional dari nol. Mulai cari tahu blogger itu apa? Cara kerjanya seperti apa? Bagaimana mendapatkan penghasilan dari blogger? Bagaimana menjadi blogger yang laris digandrungi klien? Bagaimana menjadi blogger yang berprestasi? Bagaimana membuat konten yang bagus di social  media?  Dan banyak lagi.

Baca juga: Hobi Menjadi Profesi, Begini Cara Menjadi Blogger Pemula

Bekerja sesuai passion. Semua bisa meraihnya, selama passion itu dicari, ditekuni, didalami dan dikembangkan. Jangan pernah bosan untuk mencoba dan melakukan hal baru. Perbanyak wawasan dari mana saja tempatnya, dan perbanyak kawan dari berbagai latar belakang.

Bekerja Sesuai Passion: Membangun Branding Baru Sebagai Blogger

Saya ingat betul bagaimana harus tertatihnya saya menyusuri jalan sebagai seorang fulltime blogger. Resign dari pekerjaan tetap saya sebagai seorang Social Media Digital tahun 2017 bulan November, dan menyiapkan modal tabungan untuk kebutuhan saya sebagai seorang fulltime blogger. 6 bulan awal menjadi masa sulit bagi saya di mana pendapatan uang masih tidak stabil dan tabungan benar-benar harus habis untuk keperluan biaya hidup sehari-hari dan modal alat sebagai blogger membeli kamera sampai smartphone baru yang kebetulan sempat dicopet.


bekerja sesuai passion


Kalo bekerja sebagai blogger bisa mendatangkan uang, kenapa tabungan harus habis? Pertama, karena klien belum tahu saya ada sebagai blogger pendatang baru. Kedua, pekerjaan sebagai blogger rupanya sudah banyak yang menggelutinya. Sehingga, saya harus bersaing. Sehingga, diperlukannyalah yang namanya branding.

Ngomong-ngomong, Branding itu apa? Simpelnya adalah tanda pengenal. Di suatu lini bisnis, branding menjadi kegiatan membuat nama atau simbol yang nantinya menjadi identitas suatu produk.
Pada kasus saya sebagai seorang blogger. Saya bisa melihat branding diri dilakukan dari 2 hal. Pertama, personal branding. Dan kedua, product (karya) branding.

Sejenak saya mulai mengingat kapan mulainya diri ini terbranding sebagai seorang blogger dan banyak dilihat orang. Pertengahan tahun 2018 teman-teman seprofesi mulai melihat saya sebagai blogger pendatang baru. Kenapa? Personal Branding. Di mana saya berusaha membentuk dan membuat orang-orang mengenal saya dengan meningkatkan citra berdasarkan value/keunggulan yang ada pada diri saya.


bekerja sesuai passion
Foto wisuda peserta Danone Blogger Academy 2018
Baca juga: Mengintip Keseruan "Field Trip" Peserta Danone Blogger Academy 2018

Pertengahan Tahun 2018 itu, saya terpilih menjadi salah satu peserta Danone Blogger Academy angkatan ke 2. Nama saya mulai dilirik dan dikenal karena berhasil masuk academy tersebut yang harus diperebutkan oleh banyak blogger atau kompasianers yang hanya dipilih 20 peserta saja termasuk saya. Bahkan, angkatan ke 3 tahun 2019, peserta yang diterima semakin sedikit hanya 10 orang saja dengan jumlah peminat semakin tinggi.


bekerja sesuai passion


Nama saya mulai naik lagi begitu saya memenangkan perlombaan Anugerah Jurnalistik Pertamina (AJP) tahun 2018 akhir tahun di kategori citizen journalism sebagai juara 2. Di akhir tahun yang sama 2018, kembali memenangkan perlombaan blog bertemakan Energi Terbarukan juara 2 juga yang diselenggarakan oleh Coaction Indonesia bekerjasama dengan Kedutaan Besar Denmark di Indonesia.


bekerja sesuai passion


Tulisan lomba Energi Terbarukan: Kerennya Pedagang Kaki Lima GBK Memanfaatkan Energi Terbarukan Solar Panel

Dan di tahun 2019, saya mulai mengejar prestasi memenangkan perlombaan menulis blog sampai membranding di social media dengan memenangkan perlombaan di Instagram ataupun twitter, meningkatkan followers saya di Instagram sampai 10.000 lebih dan melebeli nama social media saya sebagai Blogger Hensem. Uhuk. Maaf, kalau ada yang eneg dan kaget abaikan saja ya. Hehe

Branding diri lainnya dalam dunia blogger ada product branding seperti mengambil niche khusus. Ada travel blogger yang fokus membuat tulisan destinasi wisata yang sudah pernah dia kunjungi. Ada lagi food blogger yang membuat ulasan aneka kuliner. Ada lagi beauty blogger yang membahas soal produk kecantikan sampai tips merawat wajajh. Fashion blogger, dan banyak lagi. Semakin spesifik, orang akan semakin jelas dan mudah mengenali siapa kamu.

Tips buat teman-teman Sobat Komuni Asik yang ingin melakukan branding diri:
1. Kenali diri sendiri
2. Kenali produk atau karya apa yang akan dibuat tapi itu kamu banget
3. Kenalkan siapa kamu dan karyamu lewat prestasi
4. Konsisten
5. Pahami perkembangan zaman saat ini yang sudah memasuki era 4.0

Lulus kuliah mau apa? Saya Cuma bisa katakan begini. Bekerja sesuai passion atau tidak (belum), jalani saja. Coba banyak hal dan rasakan titik di mana kamu mulai menyukai pekerjamu. Lalu, kembangkan dan terus cari ilmunya. Jangan pernah merasa puas teradap apa yang sudah didapat. Saya sendiri pun masih punya peer, "Lalu, apa setelah ini?"

Jadi, itu dia yang bisa saya bagikan. Terima kasih buat semua teman-teman yang sudah membaca tulisan ini. Semoga bermanfaat.

Buat teman-teman yang ingin berteman dengan saya di social media. Bisa follow di:
Intagram/twitter: @nursaidr_
Facebook: Nur Said Rahmatullah

nursaidr Hai, saya Said. Saat ini saya aktif sebagai Fulltime blogger. Saya sangat tertarik menulis tentang lifestyle, traveling dan kuliner.

Belum ada Komentar untuk "Life After Campus, Bekerja Sesuai Passion Mungkinkah?"

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel