follow us

Nyari Amal!


Assalamu alaikum,
Selamat malam...

Hari ini ada sebuah cerita menarik bagi saya yang mungkin bisa dijadikan pembelajaran/teguran buat saya pribadi dan mungkin buat teman-teman juga yang sama-sama merasakan.

22 Agustus 2015, pagi ini saya dan rekan satu profesi di salah satu Majalah di Jakarta janjian ke kantor bareng pagi-pagi. Ya, kami janjian untuk menyerahkan rincian insentif tulisan majalah kami bulan Agustus.

Singkat cerita, sampailah saya dan rekan wanita saya ini di kantor. Saya menggunakan kendaraan motor, dan rekan wanita saya menggunakan kendaraan mobilnya yang tiap hari bergonta-ganti itu, metro 102. Mwehehe


Di luar kantor, terlihat seorang bapak yang saya kenali bahwa beliau adalah seorang yang mengabdikan dirinya di masjid sebelah kantor. Beliaulah yang selalu mengumandangkan azan di masjid tersebut.

Pada saat itu saya dapati bapak tersebut sedang mencuci mobil. Sesambil melewati beliau dan masuk kantor, saya pun menyapanya. "Pak, misi." Singkat saya, dan dibalas senyum olehnya.

Sesampainya di kantor, saya beristirahat sejenak dan mengobrol-ngobrol yang kebetulan di sana ada teman Relawan dari Surabaya yang bertugas di Jakarta. Sambil menunggu Ibu PIMRED, saya menyambi mengobrol mengenai program-program relawan.

Tak berselang lama, Ibu PIMRED pun datang. Rincian tulisan yang sudah kita ketik dan print out diserahkan ke beliau. Dan cek pun ditulis sesuai nominal yang ada pada rincian insentif yang kami rincikan.

setelah selesai dengan urusan rincian insentif tulisan itu. Kami dilanjutkan dengan obrolan singkat mengenai konter hp yang jual batre HP. Kebetulan batre salah satu relawan mengalami kendala. Karena ia baru di Jakarta, jadi tidak tahu harus beli di mana dan sedikit bertanya-bertanay. Hingga diputuskan meminta tolong kepada saya untuk membelikan. Saya pun mengiyakan. Dan teman Relawan yang baru saya kenal beberapa hari ini pun mengambil sampel batre yang lama dan merogoh uang untuk dititipkan ke saya.

Sesambil menunggu teman saya itu mengambil batre, saya masih duduk di posisi awal saya sampai. Namun, tiba-tiba bapak tadi yang sedang mencuci mobil (yang tidak bisa saya sebutkan namanya) tiba-tiba masuk dan berkata kepada teman relawan saya tersebut.

Sini, mana batrenya. Bapak saja yang membelikan. Dan teman saya pun memberikan contoh batrenya. Dan saya cuma bisa melihatnya sambil tersenyum dan kembali menyapanya, "Terima kasih, pak."

Setelah merasa tidak ada lagi keperluan, saya pun hendak bersiap-siap untuk bergegas pulang menuju kampus. Mengingat hari ini adalah wisudwan teman-teman kelas dan Redaktur pelaksana kami. Saya dan teman wanita saya yang tadi bareng berangkat ke kantor memang sudah janjian setelah setoran rincian insentif langsung menuju kantor. Namun, karena teman wanita saya tadi bawa kendaraan pribadi yang tiap hari ganti, ia memutuskan pulang duluan dari kantor. dan saya baru memutuskan pulang setelahnya.

Setelah berselang sekiranya 15 menit teman wanita saya itu. Saya pun izin pamit juga kepada dua teman relawan saya di kantor. Di mana satu relawan sudah saya kenal baik, dan satunya yang mau emnitipkan batre baru saya kenal beberapa hari. Saya pun izin pulang menuju motor yang saya parkir di halaman.

Kebetulan di luar pun ada Ibu PIMRED dan saya pamit. Namun, berselang saya pamit, tiba-tiba saja bapak yang tadi menawarkan diri ingin membelikan batre sudah pulang. Jelas saya kaget, betapa cepat dan sigapnya Bapak ini berniat membantu tanpa menunda. Yang saya pikir, beliau akan membelikan batrenya tidak langsung, atau nanti (bisa siang, sore atau malam). Dan Ibu PIMRED pun bertanya kepada beliau.

"Pak, dari mana?"
"Ini Bu, beli batre."
 Tanya jawab dilakukan. dan Ibu PIMRED pun merasa heran, kenapa bisa jadi beliau yang membelikan. padahal kan tadi batre itu dititipkan ke saya. Ya, percakapan tadi mengenai batre masih dihadiri Ibu PIMRED. Namun, setelah kesimpulan saya yang ditipkan, Ibu PIMRED memuttuskan keluar kantor dan pulang ke rumah yang letaknya 5 langkah saja dari kantor. Hehe Alias dempetan dengan kantor. Sehingga saat bapak tadi menawarkan diri ingin membelikan batre tidak diketahuinya. obrolan pun berlanjut. dengan suasan saya masih mempersiapkan diri memakai helm, dan berdiri di motor. Ibu pimred di depan rumahnya samping kantor, dan Bapak ini berdiri berhenti sejenak menangkap ajakan percakapan ibu PIMRED.

"Loh kok bisa Bapak yang beli?"
"Loh Said, tadi bukannya kamu yang dititipkan?" tanyanya Ibu PIMRED kepada si Bapak dan saya secara berbarengan.

dan si Bapak pun menjawab dan langsung masuk ke dalam kantor menyerahkan batre kepada teman relawan tadi.

"Iya bu gpp, nyari Amal." jawabnya singkat.
Jawaban tadi yang didengar saya, Ibu PIMRED dan ternyata ada suami Ibu PIMRED, membuat saya merasa kecil dan bodoh. Betapa bodohnya saya dan melupakan kata "Amal" yang dengan ringannya bapak tadi berkata, "Nyari Amal."

________________________________________________________________________________
Ya, Allah...                                                                                                                                             |
Gusti, betapa bodohnya saya bisa melupakan itu.                                                                                 |
Bahwa sekecil apapun perbuatan baik, tetaplah mendatangkan kebaikan dan mendapatkan pahala.   |
Huft, istigfar pun saya ucapkan dalam hati.                                                                                           |
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

dan suami Ibu PIMRED pun berbicara kepada saya.
"Weleh, Said kalah toh gak mau ambil amal." kiranya seperti itu beliau berkata kepada saya. Sambil tersenyum pun beliau berkata demikian yang saya tahu, beliau ingin sebenarnya amal itu saya yang ambil. dan dalam senyumannya, saya pun kembali melepas helm, dan menyalaminya sembari pamit pulang.

"Assalamualaikum Bu, Pak,"

***
Ya, semoga ini bisa jadi pembelajaran buat saya dan rekan2 semua untuk tidak melupaka satu hal,
"Sekecil apapun perbuatan baik yang kita kerjakan, jangan lihat itu tidak bermanfaat untuk kita atau malah merepotkan kita. Tapi ingatlah, ada imbalan yang tidak bisa digantikan pada hari itu juga, tapi akan ada ganti tabungan kita di akhirat kelak." 

Bukankah kita juga mengenal dalam Islam,
"Barangsiapa yang membantu saudaranya dalam kesusahan, maka Allah SWT akan mempermudah segala urusannya di dunia dan akhiratnya." 

Ya, semoga kita semua termasuk orang-orang yang dipermudah oleh Allah SWT dalam setiap urusan kita di dunia maupun akhirat kelak, Aamin.

0 Response to "Nyari Amal!"

Diberdayakan oleh Blogger.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel