follow us

Merajut Hidup: Raga dan Jati

Dahulu, 
Sejak usiaku mendekati angka 17. Kukira aku sudah menjadi dewasa.  Menganggap dapat melihat ini baik dan itu buruk. 
Kukira menjadi dewasa sesimpel meluruskan seribu benang yg terajut menjadi satu bahan jadi.  Ternyata tidak!  Kudapati diriku sedang meluruskan satu helai benang yg dibasahi dengan sedikit liur.  Begitulah yg dulu pernah diajarkan.  Tapi,  itu tidak berguna dan sia untuk sekompleksitas masalah yang terbelit. 
Aku tidak lagi sedang merajut hidup guna memperbaiki. Sehingga hanya butuh satu jarum dan beberapa meter benang yg aku gunakan untuk menjadi hidup yang rusak. 
Tidak,  tidak,  dan tidak.  Menjadi dewasa tidak sekedar memperbaiki hidup.  Tapi bagaimana menghadapi,  melewati dan menyelesaikan masalah.  Itu juga belum selesai.  Masih ada tugas memperindah hidup guna memewahkan hidup yang sederhana,  menjadi luar biasa. 
Kepada waktu dan jatiku.  Hiduplah lebih lama agar aku bisa menggapai hingga rajutan terakhir.  Biarkan segala kesalahan menjadikan pembelajaran.  Segala kehidupan menjadi cermin belajar untuk menoreh.  Dan sentuhan hati untuk tersentuh secercah masukan. 
Jatiku yang baru belajar, bersabarlah bersama raga.  Mendinginlah bersama hati.  Dan selesaikanlah dengan akal. 
Yakinlah,  kita pasti bisa!
Jakarta, 21/10/15

0 Response to "Merajut Hidup: Raga dan Jati"

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel