follow us

Anak Penjual Tisu di Kampus UIN Jakarta itu Bukan Pengemis

Sumber google.com
ilustrasi 


Selesai dengan agenda ke kampus, saya dan rekan menuju ke lantai 1 untuk ngobrol-ngobrol. Dan saat tengah berbincang-bincang ringan, saya didatangi seorang anak kecil laki-laki penjual tisu yang dulu pernah juga menawarkan saya tisu jualannya dengan alasan ibunya sakit. Dan kali ini anak itu tidak dengan alasannya dan memang tidak memberikan alasan apa-apa. Hanya berjualan.
***

Pagi ini emang tumben banget dateng ke kampus di hari libur. Ehh, di hari gak libur juga gak pernah ngampus. Jangan tanya kenapa...

Pagi ini saya datang ke kampus karena ada undangan temen untuk ngeliyatin dia sidang skripsi. Baperlah pasti, temen seperjuangan acc skripsi beda janrak mingguan doang.... Tapi ya sudahlah dan menjadi resiko. Siapa suruh main mulu tong. Bukannya skripsian malah ngayab ke sana ke mari. Inget tong, dosen pembimbing udah ngelike status fb lu tuh, kode disuruh bimbingan. Well, dateng liat sidang gak rugi juga buat saya. Tapi nambah semangat buat ngejar skripsi. Langsung di tempat ruang sidang skripsi saya langsung sms narsum buat ngajak wawancara. Dan .... tara.... masih tetap belum bisa. Huhu

Suasana kampus siang itu cukup tenang, mungkin terbilang sepi. Memang saat ini sudah memasuki musim liburan semester. Libur panjang selama 2 bulan. Hmm... mungkin bagi semester baru enak, tapi bagi semester menengah sampai jumping up itu lama. 1 bulan awal  menyenangkan, memasukin bulan kedua mulai bosan dan pasti rindu aktivitas.

Saran sih, buat yang masih semester menengah 3-5 jangan pulang kampung. Mending stay di kampus cari aktivitas seperti magang, coba-coba kerja, atau ikut komunitas kegiatan social. Lebih bermanfaat daripada liburan di rumah aja. Bener deh. Ini dari lubuk hati kakak senior semester tua. Hiks...
Lepas acara sidang skripsi, alhamdulillah 2 teman lulus juga. Saya dan teman lainnya turun ke lantai 1 untuk duduk ngobrol santai. Saat sedang ngobrol, datanglah anak kecil laki-laki penjual tisu menawarkan tisunya. Seketika saya ingat dia.
***

Bocah kecil yang pernah menawarkan tisunya di warung makan bambo ina ayam lumpur pesanggrahan Ciputat. Waktu itu sambil memelas, dia menawarkan tisunya kepada saya. Dan dengan alasan ibunya sedang sakit.
“Ka beli tisunya ka, buat ibu saya lagi sakit.” Dan saya pun menimpalinya ngajak ngobrol. “sakit apa emang ibunya?” Kalo tidak salah dia bilang waktu itu demam panas dingin.

Tisunya yang dibawa anak itu terlihat tinggal sedikit, 6 tisu. Saya tanyakan padanya satunya berapaan? Anak itu menjawab seperti ragu atau bingung. Saya juga tidak tahu. Akhirnya dia bilang 1 nya 2500. Saya pun memutuskan membeli 2, jadi 5000.
Uang yang saya berikan kepada dia 10.000. Saya ajak bicara,
“kembalinya jadi berapa?”
“5.000 ka.”

Tapi sayangnya, dia tidak ada kembalian. Sempat ada jeda di situ, dan akhirnya saya bilang, “Ya udah kalo beli 10.000 jadi berapa?”
“4 ka.” Sambil ngitung dia menjawab 4.

Anak itu pun mulai  ngitung jumlah tisunya dan entah kenapa akhirnya dia malah ngasih semua tisunya beserta plastik besar kantong tisu ke saya. 6 tisu. Sempat saya panggil dia tapi tidak dihiraukan. Dia langsung pergi dan bilang, “Ydah ka, semuanya aja ambil.”
***
Anak kecil penjual tisu itu datang tanpa ada embel-embel ibunya sakit. Dia hanya menjualkan saja. Dan gaya memelas suaranya sepertinya memang sudah intonasinya yang seperti itu. Seperti biasa dia menawarkan tisunya, “ka beli tisunya ka.”

Karena masih ingat tisu yang sebelumnya saya beli masih ada, jadi saya bilang tidak. Namun, teman di sebelah saya memberikannya uang 2000 rupiah tanpa membeli tisunya. “Gak dulu deh de. Ehmm tapi ini  2000 buat kamu aja.” Dan anak itu pun mengambil duit 2.000 nya dengan ragu. Ia pun pindah ke sebelah di mana ada mahasiswa juga sedang ngumpul juga.

Kepindahannya ke sebelah masih saya perhatikan, dan seperti biasa mahasiswa yang sedang nongkrong itu tidak mebelinya. Akhirnya anak itu kembali berbalik arah ke arah saya dan teman saya. Seketika anak itu langsung ngasih naro 1 tisunya ke saya. Teman saya pun bingung. Dan ya, saya pun langsung bisa menebak bahwa anak itu tidak ingin diberi, dia ingin berjualan, bukan dikasihani. Saya pun langsung memberikan tisu itu ke teman saya sambil bilang,
                “Ini, dia gak mau dikasih. Maunya dibeli tisunya.”
                Nyessss....
***
Masihkah kita meminta-meminta atau berharap dikasih/ditraktir/dikasihani?
Mari instropeksi diri.
NB: Bagi mahasiswa UIN Jakarta kalau ketemu anak kecil cowo ini menjual tisu, bisa dibeli. Walau satu saja itu sepertinya sangat membantunya dalam mencari rezeki. Insya Allah teman-teman juga akan dilimpahkan rezekinya oleh Allah Swt. Aamin.
Gak ada foto, karena gak ada kepikiran buat foto anak itu.  

Dari Qabishah bin Mukhariq Al-Hilali radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَا قَبِيْصَةُ، إِنَّ الْـمَسْأَلَةَ لَا تَحِلُّ إِلَّا لِأَحَدِ ثَلَاثَةٍ : رَجُلٍ تَحَمَّلَ حَمَالَةً فَحَلَّتْ لَهُ الْـمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيْبَهَا ثُمَّ يُمْسِكُ، وَرَجُلٍ أَصَابَتْهُ جَائِحَةٌ اجْتَاحَتْ مَالَهُ فَحَلَّتْ لَهُ الْـمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيْبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ –أَوْ قَالَ : سِدَادً مِنْ عَيْشٍ- وَرَجُلٍ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ حَتَّى يَقُوْمَ ثَلَاثَةٌ مِنْ ذَوِي الْحِجَا مِنْ قَوْمِهِ : لَقَدْ أَصَابَتْ فُلَانًا فَاقَةٌ ، فَحَلَّتْ لَهُ الْـمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيْبَ قِوَامًا مِنْ عَيْش ٍ، –أَوْ قَالَ : سِدَادً مِنْ عَيْشٍ- فَمَا سِوَاهُنَّ مِنَ الْـمَسْأَلَةِ يَا قَبِيْصَةُ ، سُحْتًا يَأْكُلُهَا صَاحِبُهَا سُحْتًا.

Wahai Qabishah! Sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal, kecuali bagi salah satu dari tiga orang: (1) seseorang yang menanggung hutang orang lain, ia boleh meminta-minta sampai ia melunasinya, kemudian berhenti, (2) seseorang yang ditimpa musibah yang menghabiskan hartanya, ia boleh meminta-minta sampai ia mendapatkan sandaran hidup, dan (3) seseorang yang ditimpa kesengsaraan hidup sehingga ada tiga orang yang berakal dari kaumnya mengatakan, ‘Si fulan telah ditimpa kesengsaraan hidup,’ ia boleh meminta-minta sampai mendapatkan sandaran hidup. Meminta-minta selain untuk ketiga hal itu, wahai Qabishah! Adalah haram, dan orang yang memakannya adalah memakan yang haram.” (Shahih: HR. Muslim, Abu Dawud, Ahmad, an-Nasa-i, dan selainnya).

5 Responses to "Anak Penjual Tisu di Kampus UIN Jakarta itu Bukan Pengemis"

  1. Jadikan Rasulullah sbg suri tauladan

    BalasHapus
  2. Jadikan Rasulullah sbg suri tauladan

    BalasHapus
  3. Jadikan Rasulullah sbg suri tauladan

    BalasHapus
  4. @MH Hilmi: Makasih ... jangan lupa share.

    @Ramlah Gilmore: sip. makasih udah mampir juga. semoga kita semua menjadi apa yang sudah diajarkan oleh Rasulullah Saw. aamin.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel