follow us

Cerpen, "Kegigihan Penjual Roti"

Kegigihan Penjual Roti
            Matahari terbit, menghangatkan pagi dengan sinarnya. Satu per satu ayam jago mulai berkokok. Para Ibu sudah disibukkan dengan kegiatan rumah tangganya, sang Ayah mulai bergegas menuju perkantoran mereka, dan anak-anak pun siap melangkahkan kaki kecil mereka ke sekolah. Dan tak kalah sibuknya, tukang roti mulai berkeliling seraya berteriak, “Roti, roti.”
            Roti, sudah menjadi pemandangan setiap hari buat gue kalo cuma  harus melihat roti. Gue Joni, penjual Roti dari salah satu cabang pembisnis roti terkemuka di Jakarta. Kerasnya jakata membuat gue harus bekerja extra untuk mendapatkan penghasilan yang cukup, syukur-syukur dapet penghasilan lebih. Setiap pagi jam lima subuh, gue udah harus berngkat ke pabrik untuk mengambil roti-roti yang sudah siap diperjual-belikan.
            “Roti, roti, teng neng neng. Roti, roti.” Itulah suara dari ciri khas penjualan roti di pabrik gue. Dengan bermodalkan sound system,  kami pun harus berkeliling kampung sambil mengeluarkan suara dari ciri khas penjualan kami.
            Pagi ini gue terburu-buru ke pabrik untuk mengambil roti dan kendaraan yang sudah disediakan oleh pabrik. Pagi ini gue kesiangan, jadi harus cepat sampai pabrik dan menjualkan roti. Seperti biasa, gue akan berkeliling kampung hingga roti habis terjual. Roti-roti gue masukin ke dalam kotak roti dengan cepat. Tak peduli dengan farian rasa yang gue masukin kotak roti. Huft, efek bangun siang. Ok, kotak roti sudah penuh, siap untuk meluncur ke TKP. hehe
            “Roti, roti, teng neng neng. Roti, roti,” Gue pun berteriak  mengelilingi kampung sambil mengendarai sepeda motor.
            “Bang, roti!” Pembeli berteriak memanggil.
            “Ya bu, mau rasa apa?” (Ya, Bu. Mau rasa apa)
            “Hmm, Rasa coklat pisangnya ada engga bang?”
            “Sebentar ya bu, biar saya cek dulu.” (Sebentar ya, Bu. Biar saya cek dulu)
            “Hmm, maaf, Bu. Saya lupa bawa. Jadi enggak, Bu? Mungkin bisa diganti dengan rasa lain, Bu?’
            “Ya sudah diganti rasa kelapa hijau aja, Bang.”
            “Ok, sebentar bu saya cek lagi,” Entah kenapa gue ngerasa hari ini banyak farian rasa yang tertinggal.
            “Hmm, maaf lagi bu, tertinggal. Mungkin bisa diganti dengan rasa lain bu?’
            “Haduh si abang, yang bener dong kalo dagang. Masa rasa ini itu engga ada sie, niat engga si bang dagang!” Pembeli menggerutu.
            “Maaf bu, saya terburu-buru tadi. Jadi engga tau sudah terbawa semua atau tidak farian rasanya.”
            “Ya udah bang, saya engga jadi deh.”
            Huft sial, gara-gara bangun siang, berangkat ke pabrik buru-buru, masukin roti ke kotak roti asal-asalan, jadinya kaya gini nih, banyak farian rasa yang engga ke bawa, dan malah banyak rasa yang sama harus terbawa. Dan sialnya lagi, gue harus kehilangan pelanggan pertama. Ok, pantang semangat terus berjuang.
            Jam sudah menunjukan pukul 07.00. Perjalanan gue lanjutkan, “Roti, roti, Teng neng neng. Roti, roti.” Terus bersuara tanpa kenal cape, dan perjalanan gue terhenti di suatu lapangan yang biasa gue jadikan tempat gue mangkal. “Roti, roti, teng neng neng. Roti, roti. Rotinya bu,,, rotiii.”
            Jam sudah menunjukan pukul 09.00, dan tak ada satu pun pembeli yang datang menghampiri dagangan gue. Tak seperti biasanya, sekalinya ada, yang di minta engga gue bawa. Nasib, nasib.
            Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, waktu telah berjalan, dan sampai saat ini pun dagangan gue tetep sepi. “Ya Tuhan, inikah cobaan dari Mu?” akhirnya gue putuskan untuk berpindah tempat, terlalu bodoh kalo gue berdiam saja di tempat biasa gue mangkal namun sepi seperti kuburan.
            Starter motor nyala, tiba-tiba! Tik, tik, tik, burrrrr. Hujann. “Aaaaaaaa, ya Tuhan, sungguh hari yang berat.” Akhirnya gue putuskan untuk berteduh sejenak, paling hujannya engga lama, Cuma sebentar.
            Berdiam diri membisu, terjebak hujan deras yang tak henti, tak henti, dan ternyata tak henti juga. Huft, cobaan, cobaan. Sambil menunggu hujan, gue pun sambil berdoa, “Ya Tuhan, tolong hentikan hujan ini. Sungguh hamba membutuhkan cahaya matahari untuk melanjutkan dagangan hamba.”
            Akhirnya jam menunjukan pukul 14.00. dari pada gue diem sendirian di sini engga jelas, mending gue ke masjid lah, sholat. Mungkin dengan gue sholat Allah akan memberhentikan hujan, dan menggantikannya dengan sinar matahari yang cerah dan warna-warni pelangi yang indah.
            Selesai sholat, gue berdoa, istirahat sejenak. Dan, ohhh tidak! Gue ketiduran. Melihat jam tangan, Allahu akbar! Sudah jam 17.00. akhirnya gue bangun, ambil wudhu, sholat asar, dan langsung keluar masjid melihat keadaan cuaca, apakah sudah berhenti hujannya atau belum.
            Keluar masjid, melihat keadaan, ternyata keadaan sudah berubah, hanya sedikit perubahan, dari status hujan menjadi gerimis. Huft, ok, engga boleh ngeluh lanjutkan perjalanan saja. Bergegas siap-siap untuk keliling lagi.
            Starter motor nyala, berangkat. “Roti, roti, teng neng neng. Roti, roti.” Sambil mengendarai motor, gue terus menyuarakan dagangan gue. “Roti, roti, teng neng neng. Roti, roti.” Tiba-tiba! Duarr?
Sekejap keadaan sepi, hening, dan sekejap pula keadaan menjadi ramai. Gue pun tak sadar sudah tergeletak di jalan, dengan berlumuran darah,motor dagangan sudah hancur remuk tergeletak tak jauh dari gue, dan sebuah mobil dengan bemper depan penyok tak jauh dari gue tampak terlihat rusak. Gue pun merintih kesakitan, dan berteriak minta tolong,
            “Tolong, tolong!”
            “Ya Pak, ada apa ini?” Seorang polisi datang dan bertanya.
            “Tolong saya Pak?”
            “Ya ada apa? Apakah anda baik-baik saja?”
            “Pak, tolong saya Pak, saya sedang tidak baik-baik saja!”
            “Kalau begitu anda harus dibawa ke rumah sakit terdekat,” Usul polisi sambil meminta bantuan ambulan.
            “Pak saya tidak butuh ambulan Pak!”
            “Terus apa yang anda butuhkan?” bertanya polisi dengan kebingungan.
            “Tolong saya Pak!”
            “Ya, ada apa sebenarnya? Apa yang anda rasakan? Dan apa yang anda inginkan?”
            “Hmmm huft,” mengambil napas sejenak.
            “Ada rasa coklat, stroberi, nanas, pisang, keju, kelapa, dan rasa lainnya. Saya ingin Bapak dan warga beli roti saya Pak, seharian dagangan saya enggak laku-laku Pak. Tolong saya Pak.”
            “Gubrak,”
            Karena merasa konyol dengan jawaban gue, korban tabrak mobil, dan keadaan gue yang menghawatirkan, gue langsung di bawa ke rumah sakit terdekat. Dan enam jam kemudian gue baru tersadarkan. Melihat ada suster,  gue pun langsung bertanya, “Sus, saya ada di mana? Dan di mana dagangan saya?”
Suster pun hanya tersenyum dan tiba-tiba keluar dari kamar inap gue. Huft, kenapa suster engga jawab pertanyaan gue. Tiba-tiba! Taraa. Mengejutkan, banyak warga masuk ke kamar gue, dan langsung menghampiri gue mengajak tertawa, berusaha menghibur gue, dan salah satu warga pun memberikan ampol.
Ternyata amplop itu adalah hasil dari dagangan roti gue yang tadi sudah bergeletakan di jalan, bersama motor gue, di kumpulkan dan beli oleh orang yang sudah menabrak gue. Senengnya. Ternyata polisi tadi mendengarkan ucapan gue, dan mengabulkan doa gue dengan membicarakannya dengan orang yang menabrak gue. Hihi
Biaya rumah sakit gue pun sudah ditanggung oleh si penabrak. Alhamdulillah...

0 Response to "Cerpen, "Kegigihan Penjual Roti""

Diberdayakan oleh Blogger.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel