Monday, January 25, 2016

Asal Tahu Rahasia Redaktur Detik Travel. Menulis Travel Writing Menjadi Sangat Mudah



             Semua pasti suka jalan-jalan. Rasanya belum lengkap jika tidak mengabadikan moment tersebut baik foto dan tulisan. Namun, seringkali kita juga kebingungan tentang apa yang akan kita tulis dan memulai dari mananya. Saya yakin, teman-teman semua yang sering sekali jalan-jalan ini punya banyak sekali segudang cerita yang ingin dibagikan. Termasuk ingin memperkenalkan wisata-wisata baru yang sangat rekomendasi dan masih tabu di masyarakat.

            24 januari 2016 di TMII, tepatnya kemarin, sungguh beruntung saya bisa terpilih dan mengikuti kegiatan #WorkshopDetiktravel yang digagas oleh komunitas D'Traveler dan didukung Detik Travel. Saya termasuk orang yang masih lugu seputar menulis catatan perjalanan. Ingin rasanya ketika saya berpergian pada tempat-tempat baru bisa saya bagikan cerita ini. Namun apalah daya, ketidak mengertian saya menjadikan keinginan membuat dokumentasi tulisan urung dikerjakan.

            Nah, saya kira kegiatan workshop kemarin menjadi Sang Pencerah hidup bagi saya seputar menulis catatan perjalanan. Pasalnya, menulis catatan perjalanan yang disampaikan pemateri Mas Faya ini seolah sangat mudah dilakukan. Hal ini berkaitan dengan bocoran-bocoran atau hal-hal yang harus diperhatikan saat hendak menulis catatan perjalanan.

           Ya, setelah mengikuti workshop, saya bisa katakan betapa simpel dan mudahnya menulis catatan perjalanan yang ciamik ini. Pastilah bisa saya katakan mudah karena saya sudah tahu apa sih yang sebenarnya terjadi dengan Travel Writing ini? Simak bocoran materi dari Mas Faya Redaktur Detik Travel dengan judul materi Travel Writing is Easy.

          Ada 3 point penting yang harus diketahui oleh para pelancong yang ingin mengabadikan dan berbagi melalui tulisan seputar tempat-tempat baru yang dikunjungi. Tiga hal tersebut adalah:
1. Apa sih travel writing itu?
2. Mitos traveling yang bikin kita ragu untuk menulis
3. Perhatikan hal-hal sebelum menulis catatan perjalanan.

         Apa sih travel writing itu? Pasti kita akan jawab catatan perjalan yang ditulis ulang. Ya, karena itu memang artinya. Jadi, travel writing yang dimaksud oleh yang benar berdasarkan redaksi Detik travel adalah semua yang terjadi sejak berangkat sampai pulang mengenai perjalanan kita. Ya, semuanya. Dari awal berangkat akses jalan dari mana hingga sampai di lokasi. Kendaraan apa yang dipakai. Ada transportasi unik apa yang ditemukan. Kuliner, tempat ibadah atau pasar-pasar yang kita temukan sangatlah wajib untuk bisa ditulis. Nah itulah travel writing atau menulis catatan perjalanan.

       Sudah dengan gambaran travel writing, lanjut ke mitos yang seringkali membuat kita ragu untuk jadi penulis catatan perjalanan. Jadi, banyak di antara kita yang mengurungkan niat menjadi penulis catatan perjalanan karena 2 mitos ini. Apa saja?
1. Traveling itu harus jauh. Ini salah besar!
2. Destinasi harus objek wisata. Ini pun juga sama salahnya.

Jadi, pada dasarnya, asalkan kita bisa menemukan sebuah tempat yang unik, menarik yang pastinya bisa dijadikan tempat traveling, itulah objek tulisan kita. Percuma juga kita nulis tempat-tempat bagus kalo itu udah populer. Rasa keingintahuan pembaca untuk membuka tulisan kita pasti tidak besar. Benar bukan? Hal ini jelas dikarenakan tempat-tempat yang ditulis sudah sangat populer. Oleh karena itu, menulislah dari carilah objek-objek yang dekat dan menarik serta belum banyak dikenal. Maka kita akan menjadi orang pertama memperkenalkan objek wisata tersebut. Senang bukan?! Pasti ada kepuasan batin karena kita berhasil mengangkat yang tadi tempat itu sepi menjadi ramai dan populer.

        Terakhir adalah perhatikan hal apa-apa sebelum kita menulis. Ya, ada 4 hal yang harus kita perhatikan sebelum menulis catatan perjalan. Apa saja?
1. Kenapa orang perlu baca? Jadi, satu ada apa dengan objek kita? (momen). Kedua kejutan apa yang ingin kita sampaikan dari objek itu? Ketiga Apa yang membuat tempat tersebut spesial dan perlu diketahui pembaca. Nah, dalam menulis catata perjalanan, Usahakan teman-teman harus membuat paragraf awal sudah mencakup ketiga hal di atas. Karena itu menjadi kunci pembuka dari mata pembaca.

2. Tentukan angle. Ya, elemen terbaik dari sebuah cerita akan membawa tulisan kita terasa mempunyai ruh  yang merasuki jiwa pembaca. Proses mencari angle teman-teman haruslah mengeksplorasi dan mengumpulkan data-data yang akurat, tidak melupakan 5w+1h termasuk dokumentasi foto. Catatan, jangan perbanyak foto SELFIE pada dokumentasi catatan perjalanan.

3. Buatlah tulisan catatan perjalan berpeta piramida terbalik.
4. Maksimalkan judul lewat angle.

         Selesai sudah materi Travel Writing is Easy. Benar-benar mudah bukan?! Intinya, dalam menulis catatan perjalanan/travel writing carilah tempat fresh, unik dan paling menarik. Jangan lupa saat menulis catatan perjalanan fokus atau spesifik. Yah, demikian sudah yang bisa saya bagi dari Workshop Detik Tavel kemaren. Semoga bermanfaat, dan semoga kita semua bisa mengangkat tempat-tempat wisata  di Indonesia sehingga menjadikan negeri ini gudangnya tempat berwisata.

Terima kasih Detik travel, terima kasih D'Traveler.
D'Traveler..... Jalan-jalan terus.          

Foto diambil dari twitter #WorkshopDetiktravel

Friday, January 22, 2016

Ingatan Matiku: Oase Iman Buya Yahya


Salam sahabat sekalian yang insya Allah selalu dalam keridhaan dan lindungan Allah SWT. 

Beberapa hari yang lalu terkirim pesan masuk dalam sebuah group whatsapp tentang Oase Iman Buya Yahya. Pesan masuk ini saya baca seksama hingga akhirnya mendorong saya kembali untuk mengemas tulisan yang sudah  pernah saya urungkan  dengan Oase Iman Buya Yahya.

Sahabat, dijelaskan dalam Oase Buya Yahya mengenai perenungan kita tentang perjalanan hidup ini. Pernahkah kita merenung sejenak seberapa jauh perjalanan ini? Perjalanan yang selama ini kita tempuh dan lalui, suka dan duka kita lahap masak-masak, di mana pada akhir cerita terdapat dua pilihan: bahagia dan sengsara.

Sunday, January 3, 2016

Yuk Jadi Pemuda Tangguh dengan Olahraga Ala Rasulullah


Terbayang sudah dalam pikiran ketika terjejer sebuah judul seperti di atas “Jadilah Pemuda Tangguh” adalah bagaimana kita menjadi pemuda yang kuat. Namun, kuat di sini pun masih umum. Sebut saja  kuat rohani dan jasmani.

Keduanya sangatlah penting untuk kita miliki. Kekuatan rohani yang berupa nilai-nilai keimanan menjadi kunci dan pegangan hidup dari segala penjuru cobaan. Ikhlas, sabar dan tawakkal (berserah diri kepada Allah) menjadi buah dari kuatnya rohani.

Pun begitu dengan kekuatan jasmani. Hal ini tidak kalah penting mengingat kita bergerak pada tubuh yang kapan pun menjadi “mati” layaknya mesin jika tidak dirawat dan diberdayakan. Memiliki fisik sehat, kuat dan bahkan menjadi pribadi tangguh mampu membela diri sendiri adalah hasil dari kekuatan jasmani. Sehat di usia tidaklah lagi muda pun menjadi bonus dari setiap manusia yang menjaga kualitas jasmaninya di usia muda.

Oleh karena itu, sebagai generasi muda, sepatutnyalah kita menjaga kualitas rohani dan jasmani. Selalu menambah wawasan mengenai ilmu-ilmu agama dan berolahraga menjadi cara untuk mendapat kualitas “Pemuda Tangguh” yang bagus.

Namun, pada kali ini, saya hanya akan mengulas mengenai macam olahraga yang dianjurkan oleh Rasulullah Saw. pada zamannya hingga sekarang.