follow us

Ilmu Kalam, Aliran-aliran dalam Islam



I
KETERANGAN UMUM

Arti Ahlussunnah adalah penganut Sunnah Nabi.
Arti Wal Jama’ah adalah penganut I’tiqad sebagai I’tiqad jama’ah sahabat-sahabat Nabi.
Kaum Ahlussunnah wal Jama’ah ialah kaum yang menganut I’tiqad sebagai I’tiqad yang dianut oleh Nabi Muhammad Saw dan sahabat-sahabat beliau. I’tiqad Nabi dan sahabat-sahabat itu sudah termaktub dalam Al-Quran dan Sunnah Rasul secara terpencar-pencar, belum tersusun secara rapi dan teratur, tetapi dikumpulkan dan dirumuskan dengan rapi oleh seorang ulama Ushuluddin yang besar yaitu Syeikh Abu hasan ‘Ali al Asy’ari (lahir di Basrah tahun 260 H. – wafat di Basrah tahun 324 H).
Adapun ulama-ulama besar kaum Ahlussunnah wal Jama’ah yang menyebar-luaskan pengajian-pengajian Imam Abu Hasan al As’ari, diantaranya :
1. Imam Abu Bakar al Qaffal (wafat 365 H) 2. Imam Abu Ishaq al Asfarani(wafat 411 H) 3. Imam al Hafizh al Baihaqi (wafat 458) 4. Imamul Huramain al Juwaini (wafat 460 H) 5. Imam al Qasim al Qusyairi (wafat 465 H) 6. Imam al Baqilani (wafat 403 H) 7. Imam al Gazali (wafat 505 H) 8. Imam Fakhruddin ar Razi (wafat 606 H) 9. Imam Izzuddin bin Abdussalam (wafat 660 H) 10. Syikhul Islam Syeikh Abdullah as Syarqawi (wafat 1227 H) 11. Syeikh Ibrahim al Bajuri (wafat 1272 H) 12. Al Allamah Syeikh Muhammad Nawawi Bantan (wafat 1315 H) 13. Syeikh Zanal Abidin bin Muhammad al Fathani 14. Syeikh Husein bin Muhammad al Jasar at Thalabilisi Dan lain-lain.
Dan adapun Imam Mansur al Maturidi, beliau juga dianggap sebagai pembangun Madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah.
Selain kaum ahlussunnah wal jama’ah yang diangap kebenarannya  terdapat 72 firqah aliran yang sesat dan berpokok pada 7 firqah, yaitu :
1.      Kaum Syiah                …………………………… 22 aliran.
2.      Kaum Khawarij           …………………………… 20 aliran.
3.      Kaum Mu’tazilah        …………………………… 20 aliran.
4.      Kaum Murjiah             ……………………………   5 aliran.
5.      Kaum Najariah            ……………………………   3 aliran.
6.      Kaum Jabariah            ……………………………   1 aliran.
7.      Kaum Musyabihah      ……………………………   1 aliran.
Jumlah                         …………………………… 72 aliran.
Kalau ditambah 1 dengan kaum Ahlussunnah wal jama’ahmaka  menjadi 73 aliran.


Dengan hadits yang menguatkan,sebagai berikut :
Artinya : “Demi Tuhan yang memegang jiwa Muhammad ditangannNya, akan berfirqah umatku sebanyak 73 firqah yang 1 masuk syurga dan yang lain masuk neraka”. Bertanya para sahabat: “siapakah fiqah (yang tidak masuk neraka) itu Ya Rasulullah ?” Nabi menjawab: “Ahlussunnah wal jama’ah”. (RH Imam Thabrani).
            Adapun kaum Qadariah termasuk golongan kaum Mu’tazilah, kaum Bahaiyah dan Ahmadiah Qad-yan masuk golongan kaum Syi’ah, kaum Ibnu Taimiyah masuk golongan kaum Musyabbihah dan kaum Wahabi termasuk kaum pelaksana dari kaum paham Ibnu Taimiyah.
II
I’TIQAD KAUM
AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH
            I’tiqad (paham) Kaum Ahlussunnah wal Jama’ah yang telah disusun oleh Imam Abu Hasan Asy’ari, terbagi atas bebrapa bagian, yaitu:
1.      Tentang Ketuhanan
2.      Tentang Malaikat-malaikat
3.      Tentang Kitab-kitab Suci
4.      Tentang Rasul-rasul
5.      Tentang Hari Akhirat
6.      Tentang Qadha dan Qadar
1.Tentang Tuhan
            Kita percaya seyakin-yakinnya bahwa Tuhan itu ada. Ia mempunyai banyak sifat, diantara nya sifata yg wajib (mesti ada) terdapat 20 sifat Allah :
1. Wujud 2. Qidam 3.Baqo 4.Mukhalafatu Ta’ala lil Hawaditsi 5.Qiyamuhu binafsihi 6.Wahdaniyah 7.Qudrat 8.Iradah 9.Ilmu 10.Hayat 11.Sama 12.Bashar 13.Kalam 14. Kaunuhu Qadiran 15. Kaunuhu Muridan 16. Kaunuhu A’liman 17. Kaunuhu Hayyan 18. Kaunuhu Sami’an 19. Kaunuhu Bashiran 20. Kaunuhu Mutakalilliman.


2. Tentang Malaikat-malaikat
            Ummat Islam mempercayai bahwa ada suatu makhluk halus yang dijadikan dari cahaya, bernama Malaikat.Dan malaikat itupun banyak tak terhitung, serta mempunyai tugas masing-masing dari Tuhan dan mereka taan atas perintah yang diberikan kepada mereka oleh Allah swt. Adapun nama-nama Malaikat yang wajib kita ketahui ada 10, yaitu:
            1. Malaikat Jibril 2. Malaikat Mikail 3. Malaikat Israfil 4. Malaikat Izrail 5-6. Munkar dan Nakir 7-8.Rakib dan Atid 9.Malaikat malik 10. Malaikat Ridhwan.
3. Tentang Kitab-kitab Suci
            Kitab-kitab suci itu banyak, karena Rasul-rasul pun banyak, tetapi yang wajib kita percayai dengan terperinci hanya 4, yaitu:
·         Kitab Taurat                : Diturunkan kepada Nabi Musa as
·         Kitab Zabur                 : Diturunkan kepada Nabi Daud as
·         Kitab Injil                    : Diturunkan kepada Nabi Isa as
·         Kitab al-Qur’an       : Diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.
4. Tentang Rasul-Rasul
            Nabi-nabi dan Rasul-rasul Allah itu sedari dulu banyak, sampai 124.000 dan Rasul-rasul 315 orang. Yang dimulai dari Nabi Adam as dan ditutup oleh Nabi Muhammad saw. Adapun Nabi-nabi dan Rasul-rasul yang wajib diketahui namanya terdapat 25 orang yaitu:
            1.Nabi Adam As 2. Nabi idris As 3. Nabi Nuh As 4. Nabi Hud As 5. Nabi Shaleh As 6. Nabi Ibrahim As 7. Nabi Luth As 8. Nabi Imail As 9. Nabi Ishaq As 10. Nabi Ya’qub As11. Nabi Yusuf As 12. Nabi Ayub As 13.Nabi Syu’aib as 14. Nabi Musa As15. Nabi HarunAs 16. Nabi Zulkifli As 17. Nabi DaudAs 18. Nabi Sulaiman As 19. Nabi Ilyas As  20. Nabi Ilyasa As 21. Nabi Yunus As  22. Nabi Zakaria As  23. Nabi Yahya As 24.  Nabi Isa As 25. Nabi Muhammad SAW.
5. Tentang Hari Kiamat
            Tidak ada yang tahu kapan datangnya hari kiamat, bahkan Nabi Muhammad saw pun tidak tahu juga, beliau hanya tahu tanda-tanda hari kiamat. Tapi yang dimaksud hari kiamat disini adalah hari akhirat yang dalam bahasa arab adalah ‘Yaumul Akhir”. Hari akhirat itu akan bermula setelah kita sudah meninggal sampai ummat manusia masuk syurga atau neraka, sesuai dengan amal mereka masing-masing.
6. Tentang Qadha dan Qadar
            Qadha menurut Ahlussunnah wal Jama’ah adalah ketetapan tuhan pada azal tentang sesuatu. Barang sesuatu yang akan terjadi sudah ditentukan Tuhan sebelumnya dalam azal. Contoh: Kita telah ditetapkan oleh Tuhan dalam azal akan jadi orang Indonesia (itu namanya Qadha). Hal ini tak bisa dirubah oleh siapapun juga.Kemudian kita dilahirkan di Indonesia (itu adalah Qadar atau takdir).
Manusia wajib seyakin-yakinnya, bahwa yang terjadi di atas dunia semuanya sudah qadha dan sudah takdir Tuhan, tidak berubah dan tidak seorangpun sanggup merubahnya.
Adapun paham I’tiqad kaum Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai berikut :
·         Iman ialah mengikrarkan dengan lisan dan membenarkan dengan hati.
·         Tuhan itu ada, namanya Allah dan ada 99 nama Allah.
·         Tuahn mempunyai banyak sifat, yang wajib disimpulkan dengan perkataan : Tuhan mempunyai sifat jalal, Jamal dan Kamal.
·         Sifat Allah yang wajib diketahui ada 20 sifat dan sudah disebutkan di atas.
·         Sifat yang harus bagi Allah hanyalah satu : Ia boleh memperbuat dan boleh pula tidak memperbuat.
·         Wajib dipercayai bahwa malaikat ada, mereka banyak dan yang mesti diketahui hanya 10 malaikat saja.
·         Wajib dipercayai adanya kitab-kitab suci yang diturunkan Allah kepada Rasul-rasul-Nya untuk disampaikan kepada kaumnya. Yang wajib diketahui kitab-kitab itu hanya 4 dan sudah dipaparkan di atas.
·         Kaum Sunny mempercayai adanya Rasul-rasul, mereka banyak dan yang wajib diketahui hanya 25.
·         Setiap orang Islam wajib mempercayai hari akhirat.
·         Kaum Sunny mempercayai Qadha dan Qadar
·         Tuhan bersama nama-Nya dan sifat-Nya, semuanya Qadim, karena nama dan sifat-Nya berdiri di atas Zat-Nya yang qadim.
·         Qur’an al Karim adalah Kalam Alllah yang Qadim.
·         Dan lain-lain.
III
SEJARAH PAHAM SYI’AH DAN
I’TIQAD KAUM SYI’AH YANG BERTENTANGAN DENGAN
KAUM AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH
Arti syi’ah dalam b.arab adalah pengikut.
Syi’ah ‘Ali berarti pengikut Ali
Menurut istilah ialah kaum yang beri’tiqad bahwa saidina ‘Ali Kw adalah orang yang berhak menjadi khalifah pengganti Nabi, karena Nabi berwasiat bahwa pengganti beliau sesudah wafat adalah Saidina ‘Ali.
            Namun walau begitu Saidina ‘Ali bukanlah pengikut syi’ah, karena beliau tidak setuju dengan faham syi’ah.Bukti yang menunjukan adalah bahwa Saidina ‘Ali ikut membai’ah khalifah pertama, ke dua dan ke tiga.
            Awal mula kaum syi’ah yang menjadi biang keladi gerakan syi’ah adalah berawalnya seorang pendeta besar yang masuk Islam yang bernama Abdullah bin Saba’. Ia mengira jika ia pergi ke Madinah ia akan di sambut besar-besaran oleh Saidina Utsman, namun tidak. Harapannya meleset, maka dari itu ia jengkel dan berusaha menjatuhkan Saidina Utsman dan berusaha digantikan oleh Saidina ‘Ali.
            Abdullah bin Saba’ mendapat dukungan besar dari kota-kota besar Islam, seperti di Madinah, Mesir, Kuffah, Basrah dan lain-lain. Yang dimana orang-orang sudah banyak yang tidak suka dengan Saidina Utsman karena beliau menghilangkan cincin stempel Nabi Muhammad SAW, dan juga beliau banyak mengangkat orang-orang Bani Umayyah menjadi pengusaha-pengusaha daerah. Untuk menjatuhkan Saidina Utsman Abdullah bin Saba’ pergi ke Mesir, Kufah, Basrah, Damsyik, dan lain-lain untuk membikin propaganda tentang keagungan Saidina ‘Ali Karamallahu Wajhahu. Abdullah bin Saba’ sangat berlebihan mengagungkan Saidina Ali dan merendahkan Saidina Utsman, Umar bin Khattab, Abu Bakar yaitu Khalifah-khalifah yang terdahulu.
            Abdullah bin Saba’ berhasil membunuh Khalifah Saidina Utsman pada tahun 35 Hijriyah.  Dan akhirnya terpilihlah Saidina ‘Ali sebagai Khalifah yag ke IV, namun bagi kaum syi’ah Saidina ‘Ali adalah Khalifah yang pertama.Pada masa ini lah terjadi perang besar yaitu perang siffin antara kaum muawiyah dengan Saidina Ali dan perang jamal antara Ummul Mu’min Siti Aisyah beserta Thalhah dan Zubeir dengan Saidina Ali.
            Pada saat perang siffin muncul paham Khawarij yang keluar dari Saidina Ali karena tidak setuju dengan masalah tahkim dari pihak Muawiyah. Pada saat perundingan tahkim Saidina Ali bersama dengan Abu Musa al-Asy’ari dan Muawiyah bersama dengan ‘Amru bin “Ash. Sayangnya pada saat perundingan Saidina ‘Ali tertipu oleh Muawiyah sehingga jabatannya diturunkan. Di sinilah kaum Khawarij makin marah dengan Saidina Ali dan Muawiyah sehingga pada tahun 40 H Khawarij mengadakan komplotan untuk membunuh Saidina ‘Ali dan ‘Amru bin ‘Ash ketua delegasi Muaiyah yang dianggap penipu ulung. Maka mereka mengutus Abdurrahman bin Muljam untuk membunuh Saidina ‘Ali, Al-Barak untuk membunuh Muawiyah dan Umar bin Bakir untuk membunuh ‘Amru bin ‘Ash. Yang pada akhirnya Saidina ‘Ali meninggal terbunuh saat hendak pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat subuh tepatnya pada tanggal 17 Ramadhan 40 H, sedangkan Muawiyah dan ‘Amru bin ‘Ash tidak terbunuh.
            Adapun i’tiqad kaum Syi’ah yang bertentangan dengan kaum Ahlussunnah wal Jama’ah adalah sebagai berikut :
1. Wasiat Nabi Muhammad SAW tentang Khalifah 2. Persoalan Imam 3. Arti ahlil bait 4. Silsilah imam-imam kaum Syi’ah 5. Pandangan sebagian kaum Syi’ah terhadap 3 khalifah 6. Persoalan imam yang lenyap 7. Pengajian Abdullah bin Saba’ 8. Arwah turun temurun 9. Paham wahdatul wujud 10. Hadits-hadits yang diterima 11. Qur’an mus-haf ‘Ali 12. I’tiqad at-taqiyah 13. Hukum agama hanya buat umum 14. I’tiqad ar raj’ah 15. Tidak menerima Ijma’ 16. Tidak menerima qiyas 17. Nikah mut’ah halal 18. Thalak tiga sekaligus jatuh satu 19. Dan lain-lain.
Adapun golongan-golongan dalam kaum Syi’ah terdapat 22 dintaranya :
1. Syi’ah sabaiyah 2. Syi’ah kaisaniah 3. Syi’ah imamiyah 4. Syi’ah isma’iliyah 5. Syi’ah zaidiyah 6. Syi’ah qaramithah 7. Dan lain-lain.

IV
SEJARAH PAHAM KHAWARIJ DAN
I’TIQAD KAUM KHAWARIJ YANG BERTENTANGAN DENGAN
KAUM AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH
            Kita telah mengetahui apa yang terjadi pada peperangan Siffin antara Saidina ‘Ali dengan Saidina Mu’awiyah, yang di mana dipihak Saidina Mu’awiyah sudah hampir kalah lalu mereka mengangkat mus-haf pada ujung tombak dan menyerukan penghentian peperangan dengan tahkim.
            Dan di sinilah timbul yang namanya kum Khawarij dengan semboyan la hukma illa lillah (tidak ada hukum kecuali dari tuhan), yang dimana mereka membenci Saidina ‘Ali karena menganggap lemah dalam menegakkan kebenaran, dan sebagaimana Saidina Mu;awiyah karena melawan Khalifah yang sah.
Pada saat mereka meninggalkan Saidina ‘Ali, mereka semua pergi ke daerah yang bernama Harura dengan jumlah 12.000 orang. Mereka mengangkat seorang dari mereka untuk menjadi kepala yaitu Abdullah bin Wahab ar Rasyid. Paham Khawarij bertambah maju setelah melihat kegagalan Saidina ‘Ali dalam perundingan Tahkim sehingga paham Khawarij dianggap benar.
            Saking marahnya kepada Saidina’Ali, Muawiyah dan ‘Amru bin ‘ash maka kaum Khawarij membuat komplit untuk membunuh ketiga-tiganya secara keji. Saidina ‘Ali di Bagdad, Muawiyah di Damsyik dan ‘Amru bin ‘Ash di mesir.Saidina ‘Ali meninggal ditikam oleh Abdurrahman bin Muljam, tetapi muawiyah dan ‘Amru bin ‘Ash tidak berhasil dibunuh.
            Setelah Saidina ‘Ali meninggal sebagai Khalifaj ke IV dan setelah Saidina Hasan bin ‘Ali menyerahkan gelarnya kepada Saidina Muawiyah dan setelah Saidina Husein mati di padang Karbela maka kaum Khawarij makin beringas dan membuat cabang.
Cabang yang pertama bermarkas di sebuah negri namanya Bathaih yang menguasai dan mengontrol kaum Khawarij yang berada di Persia dan satu lagi di daerah-daerah sekeliling Iraq. Cabang Bathaih dikepalai Nafi’ bin Azraq, dan Qatar bin Faja’ah,
Dan cabang yang kedua di Arab yang menguasai kaum Khawarij yang berada di zaman Hadharamaut dan Thaif. Cabang daerah arab dikepalai oleh Abu Thaluf, Najdah bin ‘Ami dan Abu Fudaika. Pemimpin-pemimpin Khawarij yang lain adalah :
1.Urwah bin Hudeair 2.Najdah bin Uwaimir 3.Mustaurid bin Sa’ad 4.Hausarah al Asadi 5.Quraib bin Marrah 6.Nafi’I bin Azraq 7.Najdah bin ‘Amir 8.Ubaidillah bin Basyir  9.Zubeir bin Ali 10.Qathari bin Fujaah 11.Abdu Rabbih 12.Dan lain-lain.
Mulanya kaum Khawarij hanya mempermasalahkan tenang Khalifah dan tahkim, namun mereka merembet kemana-mana kepada soal I’tiqad dan kepercayaan, sehingga dunia Islam terbentuk suatu paham yang dinamakan paham Khawarij.
            Adapun persoalan-persoalan I’tiqad kaum Khawarij yang bertentangan dengan I’tiqad kaum Ahlussunnah wal Jama’ah adalah sebagai berikut :
1.Persoalan Khalifah 2.Terhadap ummul mu’min Siti ‘Aisyah Rda 3.Cap “Kafir” 4.Ibadat = Iman 5.Orang sakit dan orang tua 6.Dosa kecil dan dosa besar 7.Anak-anak orang kafir 8.orang yang paling buruk.
V
SEJARAH PAHAM MU’TAZILAH DAN
I’TIQAD KAUM MU’TAZILAH YANG BERTENTANGAN DENGAN
KAUM AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH

            Paham mu’tazilah adalah suatu kaum yang membikin heboh dunia Islam selama 300 tahun pada abad-abad permulaan Islam.Kaum Mu’tazilah pernah membunuh ribuan ulama Islam, di antaranya adalah Syeikh buwaithi, imam pengganti Imam Syafi’I dalam peristiwa yang dinamai “Peristiwa Qur’an makhluk”. Imam Ahmad bin Hanbal pembangun mazhab Hanbali, mengalami pula siksaan dalam penjara 15 tahun akibat peristiwa itu.
            Asal usul munculnya kaum Mu’tazilah adalah pada saat seorang guru yang bernama Syeikh Hasan Basri (meninggal tahun 110 H) dan di anra muridnya ada yang bernama Wasil bin ‘Atha (meninggal tahun 131 H). yang di mana Syeikh Hasan Basri menjelaskan tentang keadaan seorang Islam yang melakukan dosa besar namun mati nya belum sempat bertobat. Pada saat dijelaskan Wasil bin “Atha tidak setuju dengan pendapat gurunya tersebut dan akhirnya Wasil bin ‘Atha mengasingkan diri dari gurunya dan dinamai dengan kaum Mu’tazilah. Dalam mengasingkan diri ini ia diikuti oleh seorang kawan yang bernama Umar bin ‘Ubeid (meninggal tahun 144 H).
            Gerakan kaum Mu’tazilah permulaannya mempunyai dua cabang:
1.      Cabang Basrah (Iraq) yang dipimpin oleh Wasil bin ‘Atha dan Umar bin ‘Ubeid dengan muridnya yaitu Usman at Thawil, Hafasah bin Salim, Hasan bin Zakwan, Khafid bin Safwan dan Ibrahim bin Yahya al Madani. Ini pada permulaan abad ke II Hijriyah. Kemudian permulaan abad ke III cabang Basrah ini dipimpin oleh Abu Huzeil al Allaf, Ibrahim bin Sayyar an Nazham, Abu Basyar al marisi, Utsman Al Jahizh, Ibnu al Mu’amar dan Abu ‘Ali al Jubai.
2.      Cabang Bagdad (Iraq) didirikan oleh Basyar bin al Mu’tamar, salah seorang pemimpin basrah yang pindah ke Bagdad kemudian disokong oleh pembantu-pembantunya, yaitu Abu Musa al Murdar, Ahmad bin Abi Daud, Ja’far bin Mubassyar dan ja’far bin Hafb al Hamdani.
Adapun Khalifah-khalifah Islam yang terang-terangan menganut atau sekurangnya menyokong paham Mu’tazilah adalah:
1.Yazid bin Walid 2.Ma’mun bin Harun Rasyid 3.Al Mu’tashim bin Harun ar Rasyid 4.Al Watsiq bin al Mu’tashim


Baik juga, dicatat gembong-gembong pengarang-pengarang Mu’tazilah yang datang kemudian, yaitu :
1.      Utsman al Jahizh, pengarang kitab “Al Hewan”
2.      Syarif Radli pengarang kitab “majazul Qur’an” dan “Haqiqut Tanzil”
3.      Abdul Jabar bin Ahmad pengarang kitab “Syarah Ushulil Khamsah”
4.      Zamakhsyari pengarang kitab Tafsir “M Kasyaf”
5.      Ibnu Abil Hadad pengarang kitab “Syarah Nahjal Balagah”
Sepanjang sejarah kaum Mu’tazilah bahwa salah satu keistimewaan kaum Mu’tazilah adalah cara mereka membentuk madzhabnya, banyak dengan menggunakan aqal dan lebih mengutamakan akal, bukan mengutamakan Qur’an dan Hadits.
            Adapun dasar-dasar pokok pengajian kaum Mu’tazilah berkisar pada 5 soal :
1.      Tauhid (Ke Esaan Tuhan)
2.      Al ‘Adl (keadilan Tuhan)
3.      Al Wa’du wal Wa’id (jannji baik dan janji buruk)
4.      Manzilah bianl manzilataen (tempat diantara dua tempat)
5.      Amar ma’ruf dan nahi munkar
Adapun dengan aliran-aliran yang terbesar dari kaum Mu’tazilah adalah
1.      Aliran Washiliyah, Aliran Washil bin ‘Atha
2.      Aliran Huzailiyah, alian Huzel al ‘Allaf
3.      Aliran Nazamiyah, aliran Sayyar bin Nazham
4.      Aliran Haithiyah, aliran Ahmad bin Haith
5.      Aliran Basyariyah, aliran Basyar bin Mu’atmar
6.      Aliran ma’mariyah, aliran Ma’mar bin Ubeid as Salami
7.      Aliran Mizdariyah, aliran Abu Musa al Mizdar
8.      Aliran Tsamariyah, aliran  Thamamh bin Ar-rasy
9.      Aliran Hisyamiyah, aliran Hisyam bin Umar al Fathi
10.  Aliran Jahizhiyah, aliran Utsman al Jahiz
11.  Aliran Khayathiyah, aliran Abu Hasan al Khayath
12.  Aliran Jubaiyah, aliran Abu Ali al Jubai
13.  Dan lain-lain
VI
SEJARAH PAHAM MURJIAH DAN
I’TIQAD KAUM MURJIAH YANG BERTENTANGAN DENGAN
KAUM AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH

Asal kata Murjiah dari kata irja, artinya menangguhkan.Kaum Murjiah artinya kaum yang menangguhkan.
      Kaum Murjiah lahir pada permulaan abad ke 1 H setelah melihat hal-hal yang dibawah ini :
v  Kaum Syi’ah menyalahkan, bahkan mengkafirkan orang-orang yang merebut pangkat Khalifah dari Saidina ‘Ali.
v  Kaum Khawarij menghukum kafir Khalifah Mu’awiyah cs karena melawan pada Khalifah yang sah, yaitu Saidina ‘Ali kw. Begitu juga kau Khawarij menghukum kafir Saidina ‘Ali cs karena menerima tahkim dalam peperangan siffin.
v  Kaum Muawiyah cs menyalahkan orang-orang pihak ‘Ali, karena memberontak melawan Saidina Utsman bin Affan Rda.
v  Sebahagian pengikut Saidina ‘Ali menyatakan salah sikap Ummul mukmin Siti ‘Aisyah Rda, sikap para sahabat Thalhah dan Zubeir sehingga terjadi apa yang dinamakan peperangan Jamal.
Pada ketika situasi yang gawat ini lahirlah sekumpulan ummat Islam yang menjauhkan diri dari pertikaian, yang tidak mau ikut menyalahkan orang lain, tidak ikut-ikut menghukum kafir atau menghkum salah, tidak mau mencampuri persoalan, seolah-olah mereka pangku tangan saja.kalau ditanya bagaimana pendapat mereka tentang Muawiyah dan anaknya Yazid, mereka menjawab: “kita tangguhkan persoalan sampai dihadapan Tuhan dan disitu kita lihat mana yang benar”.Dan seterusnya.
Pendeknya, sekalian masalah mereka tangguhkan sampai kehadirat Tuhan yang akan memberikan hukuman yang adil. Mereka tidak melahirkan apa-apa dan mereka berpangku tangan saja.Inilah asal mula paham mujiah.
            Adapun I’tiqad kaum Murjiah yang bertentanga dengan I’tiqad kaum Ahlussunnah wal Jama’ah adalah sebagai berikut :
Ø  Iman itu mengenal Tuhan dan Rasul-rasulNya, kalu kita sudah mengenal Tuhan dan Rasul-Nya maka itu sudah cukup, sudah menjadi mu’min.
Ø   Orang yang telah iman dalam hatinya, tetapi ia kelihatan menyembah berhala atau membuat dosa-dosa besar lainnya, bagi kaum Murjiah orang ini masih mu’min.
Ø  I’tiqad menangguhkan.


VII
SEJARAH PAHAM JABARIYAH DAN
I’TIQAD KAUM JABARIYAH YANG BERTENTANGAN DENGAN
KAUM AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH
            Ada seorang bernama Jaham bin Safwan, yang berasal dari Khurasan. Mulanya ia menjadi jurutulis dari seorang pemimpin yang bernama Harits bin Sureih yang memberontak terhadap kerajaan Bani Umayyah di Khurasan. Kemudian nama Jaham bin Safwan menjadi terkenal karena ia adalah seorang jurutulis yang sangat rajin bertabligh, menyeru manusia kepada jalan Allah dan berbakti kepadaNya.
            Namun ada fatwa yang bertentangan dengan ulama-ulama Islam, yaitu bahwa manusia tidak mempunyai daya dan tidak mempunyai upaya, tidak ada ikhtiyar dan tidak ada kasab.Sebagaimana keadaan bulu ayam yang diterbangkan angina di udara atau sebagai sepotong kayu ditengah lautan yang terombang-ambing oleh ombak.
            Madzhab ini dinamai madzhab Jabariyah, yakni madzhab orang-orang yang berpaham tidak ada ikhtiyar bagi manusia. Pada mulanya I’tiqad ini hamper sama dengan Ahlussunnah wal Jama’ah yang berpendapat sekalian yang terjadi dalam alam ini pada hakikatnya semua dijadikan Tuhan, tetapi kaum Jabariyah sangat radikal, sangat keterlaluan, sehingga sampai pada I’tiqad bahwa kalau kita meninggalkan sembahyang atau berbuat kejahatan maka semuanya tidak apa-apa, karena hal itu dijadikan oleh Allah, begitupun sebaliknya dengan jika kita mengerjakan kebaikan.
            Jaham bin Safwan akhirnya mati terbunuh dalam pertempuran dengan tentara Khalifah Bani Umayyah yang penghabisan pada tahun 131 H. tetapi kemudian kaum Jabariyah ini berpecah menjadi 3 firqah, yaitu :
1.      Bernama Jamhiyah yang dikepalai oleh Jaham bin Safwan
2.      Najjariyah yang dikepalai oleh Husein bin Muhhamad an Najjar
3.      Dlirariyah yang dikepalai oleh Dlilar bin Umar.
Ketiga aliran Jabariyah ini berkembang sekitar abad ke II dan separuh yang pertama abad ke III H.


            Adapun I’tiqad kaum Jabariyah yang bertentangan dengan I’tiqad kaum Ahlussunnah wal Jama’ah adalah sebagai berikut:
Ø  Tidak ada usaha dan ikhtiyar manusia
Ø  Iman dalam hati saja




VIII
SEJARAH PAHAM NAJARIYAH DAN
I’TIQAD KAUM NAJARIYAH YANG BERTENTANGAN DENGAN
KAUM AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH

            Pembangun madzhab ini adalah seorang yang bernama Abu Abdillah Husein bin Muhammad an Najjar. Ia hidup pada masa Khalifah al Ma’mun sekitar tahun 198 H sampai 218 H. ia pada mulanya murid seorang Mu’tazilah namanya Basyar al Marisi, tetapi kemudia ia menjadi “bajing loncat”, sekali menganut paham Mu;tazilah, besok paham Jabariyah, lusa menganut paham Ahlussunnah wal Jama’ah dan akhirnya membuat Madzhab sendiri. Beliau ini berusaha mempersatukan di antara paham-paham itu, satu kali fatwa Mu’tazilah, satu kali fatwa  Jabariyah satu kali Ahlussunnah wal Jama’ah.
            Madzhab Jabariyah ini awalnya agak berkembang juga sehingga mereka terbagi atas 3 aliran, yaitu:
ü  Aliran Margatsiyah
ü  Aliran Za’faraniyah dan
ü  Aliran Mustadrikah
Dan yang pada akhirnya paham ini lenyap dengan sendirinya, namun paham ini dapat dilihat pada buku-buku Ushuluddin dan buku-buku sejarah kaum Mutakallimiin.

            Adapun I’tiqad kaum Najariyah yang bertentengan dengan I’tiqad Ahlussunnah wal Jama’ah adalah sebagai berikut:
1.      Tuhan tidak punya sifat
2.      Mu’min yang berbuat dosa pasti masuk neraka
3.      Tuhan tidak bias dilihat

IX
SEJARAH PAHAM MUSYABBIHAH DAN
I’TIQAD KAUM MUSYABBIHAH YANG BERTENTANGAN DENGAN
KAUM AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH

Kaum Musyabbihah artinya kaum yang menyerupakan.
Kaum Musyabbihah digelari kaum Musybih (menyerupakan) karena mereka menyerupakan tuhan dengan makhluk-Nya. Mereka mengatakan Tuhan Allah bertangan, bermuka, bertubuh seperti manusia.
            Ada juga yang menammakan kaum ini dengan kaum Mujassimah, yakni kaum yang menumbuhkan, karena mereka menumbuhkan Tuhan, menatakan Tuhan bertubuh terdiri dari darah dan daging, bermuka, bermata, bertangan berkaki dan bahkan ada yang mengatakan bahwa Tuhan itu berkelamin dan kelaminnya laki-laki. (Lihat syarah Nahjul Balagah Juz III, hal 225).
            Kebanyakan kaum Mujassimah ini berasal dari orang-orang yang menganut madzhab hanbali, tetapi Imam Hanbali tidak berkeyakinan dan tidak beri’tiqad sebagaimana mereka. Imam-imam dan guru-guru besar kaum Musyabbihah di antaranya adalah :
1.      Abu Abdillah bin Hamid bin ‘Ali al Bogdadi al Waraq (meninggal 403 H)
2.      Qadhi Abu Ja’la Muhammad bin Khalaf bin Farra’ al Hanbal (meninggal 458 H)
3.      Abu Hasan Ali bin Ubaidillah bin Nashar az Zugwani al Hanbali (meninggal 527 H)
4.      Ja’d bin Dirham
5.      Bayan bin ‘Ismail
6.      Muhammad bin Kiram (meninggal 256 H)
7.      Hisyam al Juwaliqi
8.      Yunus bin Abdirrahman
9.      ‘Ali bin Mansyur
10.  Ma’adz al Anbari yang memfatwahkan bahwa Tuhan laki-laki
11.  Daud al jawaribi
12.  Dan banyak lagi.

Adapun pafam I’tiqad kaum Musyabbihah yang bertentangan dengan kaum Ahlussunnah wal Jama’ah adalah sebagai berikut :
·         Tuhan Allah bermuka dan bertangan
·         Tuhan Alllah duduk dan bersela di atas ‘Arsy
·         Tuhan di atas langit
·         Tuhan Allah bertubuh serupa cahaya


Kesimpulan
            Kaum Ahlussunnah wal Jama’ah merupaka aliran yang paling benar di antara aliran yang lainnya. Seperti Syi’ah, Khawarij, Mu’tazilah, Murji’ah, Najariyah, jabariyah dan Musyabbihah.
Adapun kesalahan-kesalahan mereka yang dapat menyesatkan pengikutnya adalah sebagai berikut :
1.      Kaum syi’ah : kaum yang berlebih-lebihan memuja Saidina ‘Ali. Mereka tidak mengakuui Khalifah-khlifah Abu Bakar, Umar dan Utsman.
2.      Kaum Khawarij : yaitu kaum yang berlebih-lebihan membenci Saidina ‘Ali. Bahkan ada di antaranya yang mengkafirkan Saidina ‘Ali. Firqah ini memfatwahkan bahwa orang-orang yang berbuat dosa besar menjadi kafir.
3.      Kaum Mu’tazilah : yaitu kaum yang berpaham bahwa tuhan tidak mempunyai sifat, bahwa manusia membuat pekerjaannya sendiri, bahwa Tuhan tidak bisa dilihat dengan mata dalam syurga, bahwa muslim yang mengerjakan dosan besar diletakkan di antara dua posisi atau dua tempat “Manzilah bainal manzilatain”, dan mi’raj Nabi Muhammad hanya dengan ruh saja, dan lain-lain.
4.      Kaum Murji’ah : yaitu kaum yang memfatwahkan bahwa membuat ma’siat tidak member mudharat kalau sudah beriman, sebagai keadaanya membuat kebajikan tidak member manfa’at kalau kafir.
5.      Kaum Najariyah : kaum yang memfatwahkan bahwa perbuatan manusia adalah makhluk, yakni dijadikan Tuhan, tetapi mereka berpendapat bahwa sifat Tuhan tidak ada.
6.      Kaum Jabariyah : kaum yang memfatwahkan bahwa manusia “majbur”. Artinya tidak berdaya apa-apa. Kasab atau usaha tidak ada sama sekali.
7.      Kaum Musyabbihah : yaitu kaum yang memfatwahkan bahwa ada keserupaan Tuhan dengan manusia, umpamanya bertangan, berkaki, duduk di kursi, naik tangga dan lain-lainnya.
 

0 Response to "Ilmu Kalam, Aliran-aliran dalam Islam"

Diberdayakan oleh Blogger.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel